Powered by Blogger.

Telaga Sarangan Magetan, Indahnya Telaga di Gunung Lawu


 

 

Malam broh,,malam-malam gini gw sempetin untuk update artikel cerita wisata di saat liburan Idul fitri 2014. Wisata yang gw kunjungin yaitu Telaga Sarangan, lokasinya kurang lebih 60km dari kota Solo selama 2,5 Jam. Telaga sarangan lokasinya di perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur, yaitu di antara Kabupaten Karanganyar dengan Kabupaten Magetan dan berada di lereng Gunung Lawu pd ketinggian 3.265 dpl ini.

Berhubung kampung halaman gw di kabupaten Karanganyar, jadi jarak yang gw tempuh kurang lebih 1 jam untuk menuju ke lokasinya. Selama perjaanan kita akan melihat kebun sayur-sayuran di kanan-kiri jalan, banyak para wisatawan yang mampir untuk sekedar beristirahat di kedai-kedai kopi di pinggir jalan sambil menikmati pemandangan alam pegunungan.


 



Kebetulan perjalanan gw ke sini menggunakan sepeda motor dan dikenakan biaya tiket Rp20.000 /orang. Harga segitu sudah include tiket masuk pengunjung+sepeda motor+asuransi. Untuk tiket parkirnya Rp5.000 /motor.

Berhubung gw dating ke sini pas saat liburan Idul Fitri jadi pengunjung yang dating pun sangat ramai sekali. Di Telaga Sarangan kita bisa menaiki kuda untuk berkeliling sekitar telaga, outbound, penyewaan ATP, Paint Ball, Speed Boat di telaga yang menurut gw gokil banget dan menantang. Dengan ombak yang lumayan gede ditambah dengan kecepatan speed boat yang super kenceng bisa bikin jantung deg degkan.  Harga sewa Speed Boat Rp50.000 bisa isi 5 orang dengan sekali putaran telaga.




Bagi yang mau nginep, disana juga banyak disedikan tempat penginapan , sentral oleh-oleh juga banyak banget. Disini gw juga beli oleh-oleh buat temen-temen di kantor.


 

Ok, sekian cerita pengalaman wisata gw ke Telaga Sarangan. Semoga bisa jadi referensi buat lw yang mau berwisata ke Kota Solo.







Galabo, Surganya Pecinta Kuliner Khas Solo


Malam broh,,minggu lalu disaat mudik ke Solo gw dating ke Pusat kuliner di Kota Solo yaitu GALABO. Lokasinya tepat di depan Mall PGS (Pusat Grosir Solo) dekat area Alun-Alun Keraton Solo. Kebetulan gw kulinerannya pas malam broh, jadi suasanya sangat pas dengan di iringi live musik acoustic. Kalo menurut gw Galabo itu mirip banget sama Malioboro yang ada di Jogja, nah klo di Solo ya di Galabo.


 


Lw bakal nemuin berbagai macem jenis kuliner di sini, gw aja sampe binggung mau pesen makan apa. Setelah melihat berbagai menu makanan yang sebagian tertulis di banner, akhirnya gw pun memutuskan memesan menu tengkleng di sebuah stall Sate Petir yang menyediakan makanan berbahan dasar kambing, ada sate buntal dan lain-lain, tetapi gw lebih tertarik untuk mencicipi tengkleng dengan harga Rp20.000.



Tengkleng merupakan makanan khas Solo, berupa sop yang terdiri dari tulang-tulang kambing  yang masih tersisa sedikit daging yang melekat pada tulang kambing tersebut.

Ok sekian dulu cerita kulineran gw di Kota Solo, mungkin aja destinasi ini bisa jadi referensi ketika lw lagi berkunjung ke Kota Solo.




Candi Cetho, Candi yang tersembunyi di Ketinggian Karanganyar

herikiswanto.com candi_ceto


 

Sebelumnya berbagi cerita pengalan objek wisata Candi Cetho, gw mau ngucapin minalaidin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin Selamat Hari Raya Idul FItri 1425H. Kebetulan lebaran di tahun ini gw ikutan keluarga mudik ke Solo, setelah hari raya idul fitri gw sempetin buat keluyuran ke Candi Cetho lokasinya kebetulan gak jauh dari kampung halaman gw broh,,ya kurang lebih 45 menit. Candi Cetho terletak di lereng gunung Lawu yang masih masuk di Kabupaten Karanganyar Solo. Dalam perjalanan kita akan disuguhkan oleh pemandangan kebun teh yang keren abis broh dengan udara yang sangat dingin.

 



Tiket di kawasan Candi Cetho hanya Rp5.000 saja. Candi Cetho Karanganyar adalah sebuah candi Hindu yang berlokasi di Dusun Cetho Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Letaknya cukup tinggi yaitu di ketinggian 1.400 mdpl. Candi Cetho Karanganyar mempunyai latar belakang yang hampir sama dengan Candi Sukuh yang juga berada di Kabupaten Karanganyar.

Nama Cetho sendiri merupakan sebutan yang diberikan oleh masyarakat sekitar yang juga adalah nama dusun tempat situs candi ini berada. Cetho dalam Bahasa Jawa mempunyai arti “jelas”, ini karena di dusun Cetho ini orang dapat melihat dengan sangat jelas pemandangan pengunungan yang mengitarinya yaitu Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan di kejuhan nampak puncak Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Selain itu dari dusun ini kita juga disuguhkan dengan pemandangan luas Kota Surakarta dan Kota Karanganyar yang terbentang luas di bawah.



Menurut para ahli sejarah dan purbakala sejarah Candi Cetho Karanganyar ini juga dibangun pada masa yang sama dengan Candi Sukuh yaitu di sekitar abad ke-15 di akhir masa kejayaan Kerajaan Majapahit Hindu. Dibangunnya situs ini pada masa keruntuhan Majapahit mempengaruhi bentuk arsitektur candi. Candi ini mempunyai bentuk yang sangat unik, sama uniknya dengan arsitektur Candi Sukuh. Candi Cetho tidak memiliki bentuk seperti pada candi Hindu di Jawa pada umumnya. Bentuknya yang menyerupai punden berundak. Hal ini mendatangkan kesimpulan bahwa jatuhnya Majapahit membuat mulai munculnya kembali kebudayaan asli masyarakat sekitar.

 

Sekian cerita pengalaman gw di Candi ini, nantikan cerita berikutnya yang gak kalah seru.